Sulit

Kita berada pada fase sulit
Aku mungkin mulai tenggelam dalam rutinitas
Setumpuk berkas yang memanggil tiap harinya untuk diselesaikan
Hingga seringkali terlupa untuk menyapa mu,
Kau mungkin masih kesulitan mencari jalan masa depanmu
Hingga seringkali emosi terluap begitu mudahnya
Aku kira di fase ini kita mudah
Tak lagi melawan dahsyatnya jarak seperti bertahun kemarin
Tapi ternyata, kehidupan orang dewasa lebih telak memukul kita

Iklan

Pada Suatu Kota

Pada suatu kota dimana fajar dan senja terasa begitu indahnya
Pada suatu kota dimana waktu selalu mengiyakan setiap keinginan
Pada suatu kota, aku menyelipkan beribu harapan dan mimpi masa depan
Pada suatu kota, aku meninggalkan suatu rasa
Kemudian perlahan terlupa meski aku masih menyimpannya
Karena sesekali, pada suatu kota ada yang kembali menyapa
Sederhana, bertanya kabar dan sedikit berbagi kisah
Pada suatu kota yang mungkin hanya menjadi cerita

Frappuccino

Aku menemukannya di sudut warung kopi
Sederhana-Tak terlalu mahal, tak terlalu mewah
Aku kemudian menggemarinya sebagai sebuah candu
Untuk sekadar bertukar cerita, sekadar meresapi suka duka
Sebuah candu yang sungguh mengganggu awalnya
Hingga kemudian menjadi ihwal yang tak bisa dihindari
Aku kemudian terbiasa bersama
Terbiasa terikat
Terbiasa merekat
Lalu perihal waktu yang memisahkan?
Ku kira ini hanya jarak
Selebihnya ku harap akan tetap sama
Tetap tak ada canggung dan segan di antara kita
Untuk kembali bertukar cerita
Untuk kembali berbagi beban suka duka dunia

Sedikit Kehilangan

Aku mungkin sedikit kehilanganmu
Pada fokus yang tak lagi pada ku
Pada janji dan laku yang tak lagi bergantung pada ku
Aku mungkin sedikit kehilanganmu
Atau bahkan telah benar separuh kehilanganmu
Meski….
Ada nyawa yang ingin tetap di sisi mu
Ada tawa yang ingin tetap karena mu
Ada tangis yang ingin tetap untuk mu
Aku mungkin sedikit kehilanganmu
Dan nantinya akan benar kehilanganmu
Pada malam yang tak lagi sama
Pada pagi yang tak lagi bersua

Tentang Rasa

Ada yang bercerita kembali tentang rasa
Kemudian, ia semakin terjerat dengan ceritanya, dengan rasanya
Tentang rasa yang jelas akan berakhir dalam hitungan waktu
Tentang raga yang akan sulit lagi untuk sekadar berdampingan
Lalu dengan nyata yang tetiba menyadarkan
Tak akan sempat untuk sekadar mengungkapkan
Nantinya sang rasa dan penceritanya hanya akan terpendam
Kemudian terkubur bersama waktu

Peralihan

Fase dalam hidup pasti berganti
Mudah aku kira, toh aku pribadi yang mudah beradaptasi
Tapi kali ini aku sampai pada fase terakhir peralihan
Pilihan ada di depan mata
Mau mewujudkan mimpi dan ambisi, atau memilih menuruti naluri?
Dalam hal mewujudkan mimpi,
Aku sadar, hidup itu bukan sekadar lomba lari
Kadang kita harus berbagi dengan hal lain
Lalu seperti musik, apa kini menulis akan ku singkirkan?
Bukan karena aku tak mampu atau bosan,
Hanya mengurangi rasa sakit yang tak mampu ku pendam sendiri
Memang aku pengecut
Aku tak pernah berani menghadapi mimpi yang runtuh akibat ketidakberdayaanku

Hikayat

Aku menjaga hatinya utuh
Tapi tak sebaliknya
Aku menjaga dirinya sempurna
Tapi tak sebaliknya

Aku menjaga setia dalam jauh
Tapi tak ada artinya
Aku menjaga janji dalam waktu
Tapi tak ada gunanya

Seperti lantunan sajak lainnya
Ini pun sekadar hikayat
Yang sekali tertulis lalu terkikis
Yang sekali terbaca lalu terlupa