Pembelaan

Barangkali waktu mengajak kita untuk beradu kata
atau mungkin kedewasaan memaksa kita untuk bicara
sederhana, aku akhirnya menanyakan,
dan kau menjawab se jujur bisa mu
sedikit pembelaan, selalu ada dan selalu sama, muncul dalam percakapan kita
lalu tertawa menjadi tirai penutup canggung akan pokok bahasan kita

Lagi dan lagi,
meski telah aku tanyakan,
aku tak pernah paham benar apa maksud setiap jawaban
mungkin kita perlu lebih banyak kedewasaan yang mengajarkan keberanian
mungkin kita perlu menaruh ego pada titik serendah-rendahnya
mungkin kita perlu berbicara lebih lama dalam satu meja
lengkap dengan dua cangkir kopi yang rela menjadi dingin demi hangatnya percakapan kita

Iklan

Semu

Barangkali aku telah kehilangan ideologi bagaimana harus menempatkan rasa
atau mungkin memang tak perlu lagi ideologi perihal hati
Seringkali aku mempermalukan diri menyapamu lebih dini, memohonmu untuk tetap tinggal, meski sebenarnya mungkin kau tak peduli
Berharap semuanya lebih lambat berjalan agar aku mudah memahami apa yang sebenarnya terjadi
atau ijinkan aku mengulang beberapa peristiwa agar lebih jelas dan sempurna apa maksudnya tingkah dan keputusan kita
Karena sungguh sangat tak berlogika setelah semuanya terlewati,
aku merindu pada yang tak tentu dan kau pun mungkin begitu
aku bergantung padamu dan entah bagaimana dirimu
Semu, entah mana yang benar terjadi
Simpatiku padamu, atau anggapanmu padaku

Akibat Sajak

Seringkali aku mati ditikam puisi
Apalagi akhir-akhir ini
Aku dipaksa tak bergerak akibat sajak
Biasanya aku hanya jatuh sekali karena kata
Lalu bangun dan mudah terlupa
Tapi kali ini kau seakan memintaku untuk selalu mengingat,
bahwa aku pernah jatuh dan akan selalu jatuh berkali kali
Pada jejak kata yang kau ukir sesekali
diantara jeda waktu
senja, ataupun tengah malam
diantara ragu dan kepastian.

Ironis

Aku terbangun dari tidur yang tak pernah cukup
merangkak mencari gawai yang dipastikan mati
Kemudian berlanjut pada rutinitas pagi, siang, berlanjut sore

Aku semakin sulit membedakan mana yang nyata dan bias
seringkali rutinitas harian ku anggap bias agar hidup tak terasa menyedihkan

Lalu mimpi?
Paling tidak setelah senja berakhir baru ku anggap sebagai hidup
dan sisanya hingga aku terlelap menjadi waktu penting di keseharianku

Aku jengah menjelaskan apa yang aku pahami
Aku jengah menjelaskan apa yang terjadi

Kadang memang nyata terlalu membosankan untuk dijalani
Kadang nyata bahkan sangat ironis untuk dipahami
Seperti jatuh cinta pada orang yang tak pernah memahami,
atau sekadar menaruh harap pada orang yang tak pernah bisa mempercayai

Angkuh

Maaf atas ketidakmampuanku dalam berbagai hal
tentang kehendak diri yang kadang tak bisa aku penuhi
termasuk di dalamnya mewujudkan temu sebagai pembunuh rindu

Maaf jika lagi dan lagi aku tak menepati janji
beradu argumentasi menjadi rutin sebagai tameng pembenar
lalu jika aku tersadar pun, aku terlampau angkuh untuk mengakuinya

Mudah saja jika hanya sekadar menuntut saling mengerti pada kondisi dewasa ini
tapi nyatanya setiap orang punya jalan hidup yang sulit untuk disamakan, untuk dibuat pada umumnya, untuk dijadikan penghakiman
Sering terbesit kata tidak peduli, atau bahkan menyerah, hanya terbesit saja sungguh
Lalu lagi dan lagi aku berbalik teguh untuk bertahan akibat lamunan masa yang sudah terlewati

Seringkali orang menganggapku tangguh, padahal diriku sendiri justru merasa aku terlalu angkuh untuk mengakui,
terlalu angkuh untuk menyerah,
terlalu angkuh untuk merasa baik-baik saja,
terlalu angkuh untuk berkata, ya! aku rindu.

Buatlah Sederhana

Terjadi lagi
Tampaknya aku menjadi sangat terbiasa
Lalu kemudian aku menjadi sangat toleran
Semoga tak berdampak buruk, entah bagi kita ataupun masa depanku nanti
Sedikit lagi- beberapa pihak mencoba menyemangati
Tetapi mungkin kedewasaan menyamarkan ambisi yang ada selama ini

Buatlah sederhana
Jika memang belum tercapai, mungkin belum waktunya

Lalu perihal pertemuan yang semakin renggang
Dihitung dengan jari tangan ini pun masih menyisa
Di suatu kota yang sama, tak (lagi) terbentang jarak
yang dulu selalu dihujat menjadi penyebab sulitnya jumpa

Buatlah sederhana
seperti rindu yang dibunuh dengan temu misalnya

Tetapi kita terlanjur terbiasa membuatnya menjadi rumit
hingga terasa sulit untuk sekedar menyederhanakan

Layaknya

layaknya tanaman yang tak semuanya tumbuh sempurna meski di tempat yang sama
ada yang tumbuh tegak menjulang berbunga di antara yang lain,
ada yang tumbuh kerdil tertutup yang lain
bahkan ada yang mati sebelum sempat tumbuh

layaknya berbincang diantara dua manusia
sulit rasanya memulai percakapan pada yang asing,
meski ada yang mudah memahami meski belum lama mengenal
kemudian ada yang sulit sekedar untuk berucap meski telah lama bersama

layaknya menempatkan percaya pada sebuah hati
ada yang menunggu pada harapan
ada yang kecewa atas keputusan
lalu ada yang masih kebingungan atas pilihan

seseorang berada di dalam dunianya,
berjalan dalam taman dengan tanaman yang tak seragam
ia mulai berbincang pada mereka yang asing
bercerita pada sosok teman yang saling memahami
namun, saat bercerita pada sosok yang telah lama dikenal, justru tak dipahami

apa yang membuat hal ini terasa salah?
terlalu lama menunggu pada harapan? kecewa atas keputusan?
atau sebenarnya masih kebingungan atas pilihan?